Suatu
hari istri saya bilang ingin sekali memelihara burung hantu, katanya hewan itu
lucu. Walaupun saya kurang tertarik dengan hewan itu, saya bersedia memenuhi
permintaan istri demi membuatnya senang. Akhirnya saya mulai browsing di
internet untuk mencari tahu seluk-beluk mendapatkan burung hantu dan
pemeliharaannya.
Singkat cerita, saya tertarik membeli seekor burung hantu jenis celepuk yang
ditawarkan di sebuah Grup di Facebook. Setelah saya konsultasikan kepada
seorang teman yang hobi memelihara hewan, dia menyarankan beli di Pasar
Jatinegara, Jakarta Timur. Pertimbangan teman saya adalah harga hewan di Pasar
Jatinegara jauh lebih murah dibandingkan yang ditawarkan di internet. Tapi
teman saya juga mengingatkan bahwa risiko beli hewan di Pasar Jatinegara agak
tinggi, pasalnya banyak pedagang yang menipu dan menjual hewan yang kondisi
sebenarnya tidak sehat. Jadi, untung-untungan saja kalau bisa dapat hewan yang
kualitasnya bagus.
Akhirnya, sampailah kami di Pasar Jatinegara. Di pasar ini banyak sekali jenis hewan yang diperdagangkan, ada reptil, unggas, berbagai jenis ikan, bahkan beberapa jenis hewan langka yang sebenarnya dilindungi dan tidak boleh diperjualbelikan. Baru saja masuk di ujung jalan kami sudah menemui seorang pedagang burung hantu. Saya pun melihat-lihat dan agak tertarik
karena ukuran burung hantunya besar walau agak lemas. Saya pikir mungkin karena
dikurung di kandang yang sempit dan belum dikasih makan. Si pedagang membuka
harga 250 ribu untuk 1 ekor burung hantu ukuran sedang. Saya tawar 50 ribu tapi
ditolak. Katanya, "Kalo 50 mah belum dapet, Mas! Ya udah, 200 aja
deh gak apa-apa." Saya belum mau menawar lagi, lalu saya tanya pura-pura
tidak tahu, "Ini celepuk ya, Bang?" Si pedagang menjawab,
"Bukan, Mas. Ini jenis Burhan." Mendengar jawabannya saya menahan
ketawa dalam hati sampai ingin kentut. Ternyata si pedagang ini penipu. Dia
menyangka saya tidak tahu sama sekali soal burung hantu. Padahal saya
sudah sedikit mempelajari burung hantu di internet.
Kemudian terjadi percakapan dan tawar menawar lebih lanjut antara saya dan
si pedagang.
"Burhan itu maksudnya burung hantu, kan?" tanya saya.
Lalu dijawab, "Bukan, Mas. Ini burung hantu jenis Burhan."
“Itu ukurannya cuma segede itu apa bisa gede lagi, Bang?”
“Kalo jenis burhan ini bisa gede lagi, Mas… Bisa sampe
setengah meter.”
Lagi-lagi jawaban menipu si pedagang mebuat perut saya mulas
menahan tawa. Padahal saya sudah mempelajari dari beberapa artikel bahwa burung hantu jenis celepuk tidak bisa
sebesar itu, karena tergolong burung hantu mini. Sementara teman saya bibirnya
sudah menyon-menyon menahan tawa menyaksikan percakapan saya dengan si pedagang.
Kemudian saya pura-pura tanya ke teman saya apa mau dibeli atau tidak. Teman
saya bilang nanti saja, mau lihat-lihat yang lain dulu. Si pedagang terlihat
kesal, kemudian dengan agak memaksa dia minta saya untuk menawar lagi. Tapi
saya sudah tidak tertarik membeli karena si pedagang tidak jujur.
Akhirnya, agak ke dalam lagi hampir di ujung pasar hewan
Jatinegara, saya mendapati seorang pedagang lain yang agak jujur dan harga
celepuknya juga tidak mahal. Singkatnya, saya jadi membeli seekor celepuk brancher seharga 80 ribu. Setelah membeli celepuk itu, saya berkeliling mencari
equipment dan kandangnya. Tapi sayang tidak ada yang menjual. Kemudian saya
beli sangkar burung biasa untuk sementara, niatnya sih akan membuat angkringan
sendiri di rumah dan membeli equipment secara online di internet.
Saat akan keluar dari Pasar Jatinegara, si pedagang pertama mendatangi saya sambil bilang, "Lho kok gak jadi beli di tempat saya, Mas? Malah udah beli sangkar segala..."
"Maaf, Bang... harganya murahan di sana," jawab saya sambil menunjuk tempat saya membeli celepuk.
"Ya udah, beli sama saya 50 ribu aja deh! Ayo!" ajak si pedagang setengah memaksa.
Saya agak kaget juga si pedagang banting harga jauh banget dari 250 ribu sampai ke 50 ribu. Gila! Benar-benar harus pintar nawar nih kalau ke sini, pikir saya. Saya tidak memedulikan si pedagang dan terus berjalan keluar, sementara si pedagang ngomel-ngomel gak jelas sambil monyong-monyong seperti mulutnya Suneo.
Dalam perjalanan pulang, saya membeli pakannya berupa
jangkrik. Harganya cukup murah, beli 5 ribu dapet jangkrik seabrek. Teman saya
juga ikut membeli pakan untuk sugar glidernya berupa ulat jerman & ulat
hongkong. Sampai di rumah, istri saya senang sekali karena saya belikan burung
hantu--yang akhirnya dia beri nama Hedwig seperti nama burung hantu Harry Potter. Dan ternyata celepuk yang saya beli sangat doyan jangkrik dan juga ulat
jerman. Kami pikir tidak ada masalah dan menganggap celepuknya sehat karena
doyan makan dan agresif.
Selama memelihara Hedwig, istri saya
sangat antusias merawatnya. Saya pun langsung membeli 1 set celepuk equipment
dan membuatkan angkringannya. Tapi sayang, di hari ke-5 ternyata celepuk itu
mati. Padahal malamnya masih doyan makan jangkrik sampai 10 ekor. Anehnya, kok
besok pagi harinya sudah mati? Yang jelas memang sudah takdir si celepuk mati hari itu dijemput malaikat pencabut nyawa. Saya lalu berpikir mungkin penyebab kematiannya karena celepuk itu stres, keracunan,
atau memang kondisinya sudah sakit sejak dibeli tapi saya tidak mengerti. Istri
saya sedih sekali melihat hewan peliharaannya mati.Saya berjanji pada istri akan membelikan lagi yang baru, tapi saya minta waktu untuk mempelajari lebih
jauh tentang hewan itu sambil mempersiapkan kandang dan equipment yang layak.
Saya katakan kepada istri bahwa jangan sampai kita hanya membeli hewan tapi
tidak bisa merawatnya. Kasihan si hewan kalau malah sakit atau mati. Lebih baik
punya persiapan yang matang baru adopsi hewan. Alhamdulillah istri saya bisa
mengerti penjelasan saya, dan kini saya masih sedang belajar seputar burung
hantu dan jenis BOP (Bird Of Prey) yang lain. Sekarang saya malah jadi tertarik
dengan hewan ini, burung hantu. Mudah-mudahan dalam waktu dekat saya bisa
adopsi lagi celepuk atau burhan jenis lain dalam kondisi sehat dan dengan
pemeliharaan yang benar.

Pelajaran yang bisa saya ambil dari kisah saya tersebut
adalah kita harus ekstra hati-hati membeli hewan di Pasar Jatinegara atau pasar
mana pun agak tidak tertipu harga murah dan supaya mendapatkan hewan yang
berkualitas. Dan satu lagi hal yang perlu kita perhatikan bersama adalah jangan
memelihara hewan hanya karena gaya-gayaan atau gengsi, tapi cintailah dan
rawatlah hewan peliharaan kita selayaknya kita memperlakukan diri kita sendiri.